Tasqif FSLDK Surabaya Raya

Acara yang diselenggarakan oleh FSLDK Surabaya dan STAIL Hidayatullah Sabtu, 19 Mei 2013

Memoar LDK MKMI

Tulislah ceritamu yang paling berkesan dan paling menginspirasi orang lain serta prestasi yang kalian dapatkan ditempat kuliah ataupun di dalam kehidupan sehari-hari selama menjadi bagian dari LDK MKMI. Buruan kirim tulisanmu paling lambat tanggal 2 juli 2012 pukul 24.00 wib

New Jaket LDK 2011

New Jaket LDK MKMI Rp 100.000 Akhir Pemesanan Jum'at, 04 November 2011 DP Minimal 50.000 Ayyooo buruan pesan jaket LDK .... !!! :-).

Istihlal Bersama LDK Se-Surabaya

Lembaga Dakwah Kampus Majelis Kajian Mahasiswa Islam (LDK MKMI) Universitas Trunojoyo Madura mendapatkan undangan untuk menghadiri acara Istihlal (halal bi halal) yang bertempat di Masjid Manarul Ilmi, Institut Teknologi Sepuluh November, Sukolilo bersama LDK se –Surabaya yang terdiri dari daerah Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan (8-9/10/2011)

Sarasehan Nasional 2011

Ayoo daftar Sarasehan Nasional FSLDK di UGM, tgl 28-30 Oktober 2011

KANTIN LDK

KANTIN LDK Adalah salah satu kegiatan syi'ar rutin tiap mingguan yang dilaksanakan oleh LDK MKMI

REKAM (Rekreasi Alam)

REKAM (Rekreasi Alam) adalah salah satu dari rentetan acara SEMUT 2011 yang bertujuan untuk lebih dekat dengan Allah, lebih dekat dengan alam selanjutnya

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2011

Ayat-ayat Cinta dan Maaf

Posted On 07:34 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Bismillahirrahmanirrahiim, Robbi zidni ilman warzuqnii fahman” (Ya Alloh, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku kefahaman),
Ikhwah fillah, segenap anggota LDK MKMI dan pembaca yang di rahmati Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa melatih lisan kita untuk berdzikir, bersyukur kepada Allah dimanapun kita berada, sehingga dalam rangkaian kegiatan sehari-hari kita diberikan kemudahan dalam menjalaninya. Pada sekerat tulisan ini mari kita sejenak membaca ayat-ayat CintaNya, sebagai pesan untuk kita dalam menjalin ukhuwah terutama tentang memaafkan.
Kaum yang beriman adalah yang memiliki sifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an : “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imraan [3]:134).  “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syuura: 43). ” …..dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ” (QS. An Nuur [24] ; 22). ” …….karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imran [3] ; 159). ” Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. .” (QS. Al A’raaf [7] ; 199)
Ikhwah fillah., sesungguhnya semua dari kita hanyalah manusia biasa yang jauh dari sempurna, yang tidak akan pernah lepas dari yang namanya salah dan khilaf. Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Karena itu wahai saudaraku, hendaklah kita melatih diri kita untuk menjadi hamba-hamba Allah yang penyabar dan pemaaf. Sebab, begitu besar balasan dari Allah bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana sabda Rasullulah, “Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR: Muslim). Nabi SAW bersabda : “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a).
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekuatan itu terletak pada pegulat, namun kekuatan itu diukur dalam mengekang nafsu di saat memuncaknya emosi/amarah seseorang” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ada seorang pria bertanya; Ya Rasulullah, aku punya banyak kerabat dan aku berusaha menyambung (silaturahim) mereka, namun mereka memutuskan (silaturahim) kepadaku. Dan aku tetap berusaha baik kepada mereka, namun mereka membalasnya dengan keburukan terhadap aku. Dan aku selalu sabar menghadapi mereka, sedangkan mereka terus menyakitiku. Beliau bersabda: “Jika keadaanmu seperti apa yang kamu katakan, maka itu seolah-olah kamu memberikan abu panas kepada mereka. Dan kamu akan tetap ditolong Allah selama kamu tetap berbuat demikian.” (HR. Muslim)
Suatu ketika seorang pria bertanya kepada Rasulullah SAW tentang akhlak yang baik, maka Rasulullah SAW membacakan firman Allah, “Jadilah engkau pemaaf dan perintahkan orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS al-A’raaf [7] : 199). Kemudian beliau bersabda lagi, “Itu berarti engkau harus menjalin hubungan dengan orang yang memusuhimu, memberi kepada orang yang kikir kepadamu dan memaafkan orang yang menganiayamu.” (Hr. Ibnu Abud-Dunya)
Semoga dengan ayat-ayat cinta dan maaf ini, nuansa ukhuwah kita bisa setulus iman dan semakin indah dengan cita-cita pertemuan di syurgaNya kelak. Aamiin.


Minggu, 11 Desember 2011

INDAHNYA PERGAULAN LAWAN JENIS DALAM ISLAM

Posted On 16:25 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Oleh : Yanuari Dwi Prianto
---------------------------------
Berkata Imam Qurthubi : "Allah ta'ala memulai dengan wanita karena kebanyakan manusia menginginkannya, juga karena mereka merupakan jerat-jerat syetan yang menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : "Tiadalah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita." (HR. Bukhari : 5696, Muslim : 2740, Tirmidzi : 2780, Ibnu Majah : 3998).

Saudara-saudariku yang budiman, Islam sebagai agama paripurna yang dibawa oleh para rasul berabad-abad silam tidak akan membiarkan fitnah itu mengembara tanpa batas, Islam telah mengatur dengan tegas bagaimana menyalurkan CINTA, juga bagaimana batas pergaulan antara dua insan lawan jenis sebelum terikat jalinan halal nan sah yaitu nikah, agar semuanya tetap berada dalam koridor etika dan norma yang sesuai dengan syari'at juga maslahat kita bersama.

Etika Pergaulan Lawan Jenis Dalam Islam :

1. Menundukan pandangan terhadap lawan jenis
Allah memerintahkan kaum laki-laki untuk menundukan pandangannya, sebagaimana firmanNya : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 30).
Sebagaimana hal ini juga diperintahkan kepada wanita beriman, Allah berfirman : Dan katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nur : 31).

2. Menutup aurat
Allah berfirman : "Dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nur : 31).
Juga firmanNya : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59).
Perintah menutup aurat juga berlaku bagi semua jenis, sebagaimana sebuah hadits : Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah seorang laki-laki memandang aurat laki-laki, begitu juga wanita jangan melihat aurat wanita." (HR. Muslim 1/641, Abu Dawud 4018, Tirmidzi 2793, Ibnu Majah 661).

3. Adanya pembatas antara laki-laki dengan wanita
Kalau ada sebuah keperluan terhadap lawan jenis, harus disampaikan dari balik tabir pembatas. Sebagaimana firmanNya : "Dan apabila kalian meminta sesuatu kepada mereka (para wanita) maka mintalah dari balik hijab." (QS. Al-Ahzab : 53).

4. Tidak berdua-duaan dengan lawan jenis
Dari Ibnu Abbas RA berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; "Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (Khalwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya." (HR. Bukhari 9/330, Muslim 1341).
Dari Jabir bin Samurah berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita, karena syetan akan menjadi yang ketiganya." (HR. Ahmad 1/18, Tirmidzi 3/374 dengan sanad Shahih, lihat Takhrij Misykah 3188).

5. Tidak mendayukan ucapan
Seorang wanita dilarang mendayukan ucapan saat berbicara kepada selain suami. Firman Allah : "Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (QS. Al-Ahzab : 32).
Berkata Imam Ibnu Katsir : "Ini adalah beberapa etika yang diperintahkan oleh Allah kepada para istri Rasulullah saw serta para wanita mu'minah lainnya, yaitu hendaklah dia kalau berbicara dengan orang lain tanpa suara merdu, dalam artian janganlah seorang wanita berbicara dengan orang lain sebagimana dia berbicara dengan suaminya." (Tafsir Ibnu Katsir 3/530).

6. Tidak menyentuh lawan jenis
Dari Ma'qil bin Yasar RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : "Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (HR. Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386 dan Rauyani dalam musnadnya 1283 dengan sanad hasan, lihat Ash-Shohihah 1/447/226).
Berkata Syaikh Al-Albani rahimahullah : "Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Ash-Shohihah 1/448).
Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh wanita meskipun dalam saat-saat penting seperti membai'at dan lain-lain. Dari 'Aisyah berkata : "Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat." (HR. Bukhari 4891).
Inilah sebagian etika pergaulan laki-laki dengan wanita selain mahram, yang mana apabila seseorang melanggar semuanya atau sebagiannya saja akan menjadi dosa zina baginya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Dari Abu Hurairah RA dari Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. zina mata dengan memandang, zina lisan dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan serta berangan-angan, lalu farji yang akan membenarkan atau mendustakan semuanya." (HR. Bukhari 4/170, Muslim 8.52, Abu Dawud 2152).
Padahal Allah ta'ala telah melarang perbuatan zina dan segala sesuatu yang bisa mendekati perzinaan (Lihat Hirosatul Fadhilah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid, Hal. 94-98) sebagaimana firmanNya : "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' : 32).


Hukum Pacaran

Setelah memperhatikan ayat dan hadits di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa pacaran itu haram, karena beberapa sebab berikut :

1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukan pandangannya terhadap kekasihnya.

2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.

3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam rumah atau di luar rumah.

4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.

5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.


6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut adalah lumrah dilakukan, padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya?


Ma'raji : Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf / Majalah Al-Furqon Edisi 8 Th.II/Rabi'ul Awwal 1424.

Semoga cuplikan tulisan ini bisa bermanfaat buat kamu dan aku juga semuanya. udkhulu fissilmi kaaffah.


Minggu, 27 November 2011

MENGGALI HIKMAH TAHUN BARU HIJRIYAH

Posted On 07:35 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Oleh : Yanuari Dwi Prianto
--------------------------------------------------
Setiap awal pasti akan berujung akhir. Seperti kita ketahui bersama bulan dzilhijjah telah menemui penghujungnya, genap sudah 30 hari, yang itu juga berarti bahwa tahun Hijriyah yang ke 1432 telah berakhir. Dan itu juga berarti sebuah awal baru akan muncul, yaitu tahun baru, bulan baru dan insya Allah semangat dan kehidupan baru. Insya Allah setiap kita sebagai seorang muslim telah mengisi tiap waktu di tahun lalu dengan sebaik-baiknya.
Saudaraku yang berbahagia, bersama kita telah memasuki tahun baru pada penanggalan Islam, yaitu yang jatuh pada tanggal 1 muharrom. Sebagai seorang muslim tentunya kita tahu bahwa penetapan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru islam juga penetapan tahun dan kalender hijriyah adalah berdasar pada sejarah besar umat islam yaitu peristiwa hijrah(berpindah)nya Rasulullah SAW dari makkah ke madinah yang pada masa itu masih bernama yastrib, peristiwa ini merupakan ruh baru bagi umat islam, batu loncatan dalam perubahan besar dari terhina menjadi mulia, dari tertindas menjadi bebas, dan dari peristiwa hijrah inilah Islam memulai kejayaannya. Terlepas dari itu, perlu kita perhatikan lagi bahwa sebelum tanggal 1 muharrom terdapat beberapa moment/peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam, diantaranya : bulan suci ramadhan, idul fitri pada 1 syawal, dan ibadah haji di bulan dzulhijjah.
Maha Kuasa Allah yang membuat sekenario kehidupan, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia-lah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan(waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. …”(QS.10:5). Ada hikmah apa dibalik tahun baru hijriyah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya? Mari kita telaah bersama!
Saudaraku yang di rahmati Allah, tentunya ketika seseorang atau sekelompok orang ingin berpindah dari sebuah tempat ke tempat lain, dari sebuah tahapan ke tahapan lain, untuk meninggalkan yang lama dan menyambut yang baru, entah itu physically ataupun spirituality, pasti membutuhkan sebuah bekal dan persiapan. Dan inilah poin intinya, sebelum kita menyambut tahun baru, peristiwa baru ataupun tahapan baru dalam kehidupan kita, Allah menghendaki kita untuk sempurna dalam persiapan meraihnya, dan Allah pun sudah membuat pertahapan proses yang detail untuk kita jalani.
Pertama adalah Ramadhan, pada bulan ini kita diwajibkan untuk berpuasa, dan mengeluarkan zakat, di sunnahkan untuk memperbanyak bacaan al-Qur’an, melaksanakan qiyamul lail dan amal ibadah lain. Puasa merupakan sebuah ritual yang dilaksanakan untuk mengekang hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Hanya hawa nafsu pada bulan ini yang harus kita kendalikan, karena “Pada bulan puasa syatan-syaitan diikat, ….” (H.R. Bukhari), sehingga setiap kesalahan yang kita lakukan pada bulan ini itu murni karena kekhilafan kita bukan karena godaan syaitan. Jadi ibadah puasa adalah ibadah untuk memerangi hawa nafsu(syaitan pada internal diri kita) bukan syaitan yang menggoda kita. Dalam bulan inipun ketika kita melaksanakan ibadah puasa dengan totalitas kita berkesempatan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah, dijauhkan dari api neraka, dan mendapatkan malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Bukan lain semua itu ditujukan untuk kita mencapai derajat taqwa di sisi Allah SWT.
Kedua adalah Idul fitri, pada hari ini, setiap muslim menghiasinya dengan banyak maaf-memaafkan dan mempererat silaturrahim. Agar lebur setiap dosa, kesalahan, dan kelalaian kita terhadap sesama manusia, serta erat ukhuwah islamiyahnya.
Ketiga adalah serangkaian peristiwa dzulhijjah yang didalamnya terdapat qurban dan ibadah haji. Dalam hikmah berqurban mengaca dari peristiwa Nabiyullah Ibrahim as dan ismail as dapat kita pahami bahwa kita harus menyembelih kecintaan kita kepada sesuatu yang bersifat duniawi agar kecintaan pada hati kita murni teruntuk Allah. Ibadah haji merupakan ibadah penyempurna rukum iman kita yang wajib dilaksanakan satu kali bagi yang mampu. Dan pada salah satu prosesi ibadah haji adalah lempar jumrah di Mina, yang merupakan bentuk pengusiran dan perlawanan terhadap syetan yang menggoda dan menjerumuskan kita.
Begitulah, setelah kita bersih dari hawa nafsu diri pribadi, tahan akan godaan syaitan yang menguji, bersih khilaf dan dosa dari sesama hingga kita menjadi insane yang bertaqwa, maka sempurnalah dan telah siaplah diri kita untuk dapat menyambut kehidupan baru (hijrah kepada sebuah kondisi yang lebih baik dari sebelumnya).
Sebuah tips untuk kita dalam menghadapi tahun baru ini dengan berkaca pada uraian diatas adalah :
1.    Ambil hikmah Hijrah
Pelajari detail sirah rasulullah pada masa-masa menjelang, pada saat, dan setelah hijrah. Bagaimana perjuangan beliau dan para sahabat. Juga sejarah dan dasar penetapan penanggalan hijriyah pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab, bandingkan dengan sejarah dan dasar penetapan penanggalan pada umat agama selain islam. Insya Allah, dengan mempelajari hal diatas kita akan lebih paham tentang esensi tahun baru hijriyah sebagai dasar pijakan kita untuk menyikapinya.
2.    Muhasabah
Momen tahun baru merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk muhasabah/ introspeksi diri, koreksi diri kita untuk mengukur sebaik mana prestasi amal ibadah juga muamalah pada satu tahun sebelumnya. Sebagai bahan bagi kita untuk menentukan peta langkah untuk menjadi lebih baik pada tahun berikutnya, agar kita menjadi orang yang beruntung, bukan yang merugi ataupun celaka, sebagaimana hadist yang disampaikan oleh rasulullah, “Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari).
3.    Buat Rencana
Berdasarkan hikmah kisah hijrah dan muhasabah pada poin diatas, berikutnya adalah tetapkan rencana kehidupan, target-target prestasi (dari berbagai aspek, finansial, spiritual, emosional juga intelektual) yang harus kita raih satu, dua atau beberapa tahun kedepan, dokumentasikan dalam sebuah kertas, majalah dinding atau buku pribadi, jangan Cuma diingat karena setiap ingatan adakalanya hilang, karena manusia tidak akan luput dari lupa.
Semoga kita tergolong sebagai orang yang senantiasa dengan gigih berusaha untuk menjadi hamba Allah yang taat dan bermanfaat. Allohu a’lam bishshowab, Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubuilaiik.


Minggu, 06 November 2011

Realitas Keimanan dalam Kehidupan

Posted On 00:17 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Indonesia adalah Negara yang kaya, kaya akan sumber daya alamnya, kekayaan tambang, hutan, pertanian bahkan lautan. Kaya akan resort pariwisatanya, bali, bunaken, pulau komodo, bromo, toba, bromo, Borobudur juga prambanan. Kaya akan jumlah penduduknya, yang menurut sensus 2010 mencapai 240.271.522 jiwa. Indonesia juga kaya akan ummat muslimnya, pemeluk agama Islam di Indonesia mencapai 85,1% dari jumlah WNI keseluruhan, bahkan merupakan Negara yang memiliki jumlah warga Negara muslim terbanyak di dunia.

Tetapi jika kita perhatika secara mendalam, terdapat kondisi yang terlihat timpang disini, di negeri kita tercinta Indonesia ini. Sebagaimana telah paparkan diatas dalam kehidupan sosial, masyarakat Indonesia beriman. Mereka yakin dengan adanya Tuhan, Allah. Mereka juga melaksanakan tuntunan agamanya sesuai syari’at, sholat, zakat, puasa juga naik haji. Mereka juga yakin terhadap kerisalahan Muhammad, nabi utusan Allah, yang dengannyalah setiap umat muslim harus mengadopsi setiap sikap, tutur kata, perilaku, akhlaq. Masyarakat muslim Indonesia juga yakin terhadap adanya malaikat yang tanpa lengah terus mencatat setiap amal baik maupun buruk yang mereka perbuat. Meraka juga paham dan beriman akan takdir, kepastian akan habisnya jatah kehidupan mereka, juga hari kiamat. Mereka juga tahu selepas mereka di dunia akan dibangkitkan menuju hari perhitungan, dan semua jerih payahnya di dunia akan mendapatkan  upah yang sesuai dengan perasan keringatnya, surga atau neraka.

Namun, pada kenyataan yang ada, iman tersebut belum mampu memberikan warna dalam kehidupan keseharian mereka. Buktinya, bagaimana mungkin bangsa yang sangat banyak melakukan mujahadah, istighatsah, tabligh akbar, doa bersama, serta berbagai ritual keagamaan, tapi di lain sisi juga menjadi bangsa yang paling banyak melakukan korupsi? Bangsa yang rajin melakukan ibadah, namun juga menjadi bangsa yang rajin mengembangkan tindak kemaksiatan.
Ada banyak hal yang telah hilang dari kepribadian bangsa kita. Keimanan seakan telah kehilangan ruh yang menggerakkan. Iman hanya menjadi simbol dan ritual, tanpa esensi, tanpa isi. Padahal jika kita mau menengok keimanan masyarakat di zaman kegemilangan Islam, akan tampaklah sebuah ruh iman yang memberikan warna yang sangat jelas dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam menjalankan kehidupan keseharian, orang-orang beriman terdahulu senantiasa berhati-hati agar tidak  terjatuh dalam penyimpangan dan kesalahan. Lihatlah para Khalifah terdahulu, mereka telah berhasil memberikan contoh bagaimana seharusnya kehidupan orang-orang beriman. Contoh kecil dari khalifah Umar bin Abdul Aziz berikut menunjukkan bagaimana keimanan telah menjadi warna dalam kehidupan keseharian sang pemimpin.
Pada suatu hari, khalifah Umar bin Abdul Aziz kedatangan seorang tamu yang tak lain adalah bibi beliau sendiri. Sang bibi datang untuk meminta tambahan jatah dana dari Baitul Mal. Mungkin ia berpikir, karena yang menjadi penguasa adalah kemenakannya sendiri, maka akan mudah untuk meminta tambahan dana dari Baitul Mal.
Tatkala sang bibi masuk ke rumah Umar, ia melihat Amirul Mukminin ini tengah makan kacang adas dan bawang, yang merupakan makanan rakyat jelata pada masa itu. Melihat kedatangan bibinya, Umar segera menghentikan makannya. Beliau sudah mengetahui maksud kedatangan sang bibi.
“Ya Amirul Mukminin, berikan kepadaku tambahan dana dari Baitul Mal,” pinta sang bibi.
“Tunggulah sebentar,” kata Amirul Mukminin.
Umar bin Abdul Aziz kemudian mengambil satu dirham uang perak dan membakarnya di atas api. Setelah tampak panas, beliau bungkus uang perak panas tersebut dengan kain.
“Inilah uang tambahan yang Bibi minta,” kata Umar sembari menyerahkan bungkusan tersebut ke tangan sang bibi.
Begitu menggenggam bungkusan tersebut, spontan sang bibi melemparkannya sembari menjerit kesakitan karena panasnya uang perak yang telah terpanggang api.
“Kalau api dunia saja begitu panas,” kata Umar, “bagaimana dengan api akhirat kelak yang akan membakar aku dan Bibi karena menyelewengkan harta negara?”
Luar biasa kehati-hatian sang Khalifah dalam menjaga harta negara. Beliau tidak mau mengeluarkan milik negara dengan cara yang tidak benar, walaupun yang datang meminta adalah bibi beliau sendiri. Apakah yang menyebabkan beliau berperilaku seperti itu? Tidak ada jawaban lain, kecuali: iman. Ya, karena iman yang kuat terpatri dalam jiwa Khalifah, beliau menjadi lurus dan bersih dalam kehidupan.
Bagaimana dengan bangsa dan pemimpin kita? Bukankah syarat pemimpin di Indonesia haruslah beriman kepada Tuhan  Yang Maha Esa? Lalu dimanakah iman tersebut tatkala korupsi telah merajalela di negeri ini? Dimanakah letak iman pada saat kebusukan menggerogoti birokrasi, pada saat anggota dewan meminta tambahan gaji, pada saat para pemimpin mementingkan hidupnya sendiri?

Ternyata keimanan kita masih merupakan tanda tanya besar, yang setiap waktu senantiasa diuji. Sebab, iman bukan saja masalah teori, namun lebih penting lagi adalah implementasi.

-------------------------------------------------------------------------
00.01
Markas Dakwah - Masjid Kampus UTM
10 Dzulhijjah 1432
-------------------------------------------------------------------------


Sabtu, 05 November 2011

LELAH, BUKAN BERARTI KALAH ATAU MENGALAH

Posted On 07:04 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Oleh : Yanuari Dwi Prianto

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (TQS al-Ankabut [29]: 2-3).
Dunia ini sengaja di cipatakan oleh Allah dengan berbagai macam perhiasan untuk menyeleksi dari sekian hambanya siapa yang paling baik amalnya (QS. Al-Kahfi : 7). Sebagaimana Terjemahan Surat Al ankabut diatas, setiap insane akan diuji oleh Allah dengan kebaikan dan keburukan (QS. Al Anbiya: 35) dari Ujian ini Dia menghendaki akan adanya bukti dan terseleksi hamba-hamba-Nya yang terbaik yang layak untuk mendapat naunganNya di surga hingga bertemu denganNya, juga akan didapati generasi lemah dengan keluh kesah yang menjadi bahan bakar , penghuni neraka jahannam.
Dari ujian ini banyak sekali akan kita dapati berbagai macam keluhan, ekspresi pewakil emosi, hingga luap curahan hati. Banyak yang akan berkata lelah, merasa jengah; bosan merasa tak tahan; putus asa hingga futur menyertai jiwa.
Boleh, dan sah-sah saja tentunya jika terdapat keluhan dari rasa lelah yang tak tertahankan, karena kita manusia. Dan setiap ironi diri, itu manusiawi. Tetapi kawan, apakah kita tidak merasa bangga jika rasa lelah itu berujung surga?
Saudaraku, di jalan dakwah ini, kita tidak akan bisa mengelak dari kelelahan. Lisan kita akan lelah untuk menyuarakan kebaikan; memberikan nasehat pemacu semangat; berdzikir dengan ucapan khoir; bertegur sapa ucap salam pererat ukhuwah, persaudaran.
Mata kita akan begitu lelah di setiap pertiga malam untuk berjaga, berdzikir menikmati gelap dan gemerlap gemintang di langit kuasaNya. Tetap terjaga dalam bermunajat kepadaNya hingga fajar terpendar; kala pagi mamantau sekeliling sekitar, mencari informasi perkembangan peradaban di belantara jagad kehidupan; dan hingga siang, sore, dan malam tetap kita gunakan lelah mata ini untuk bekerja dalam kebaikan, bekerja untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Lelah, akan begitu lelah tangan kita untuk senantiasa bertahan di posisi atas; berbagi dengan masyarakat yang belum terentas. Lelah dalam mengupayakan kehalalan nafkah agar hidup penuh barakah. Lelah dalam mengupayakan kebangkitan lingkungan dari kemiskinan, berpartisipasi dalam menolong korban bencana alam.
Otak dan pikiran kita akan kelelahan karena terperas untuk berpikir keras. Mempelajari ilmu-ilmu kehidupan di setiap bidangnya, politik, ekonomi, sosial, budaya, komunikasi, adab dan etika. Otak ini akan lelah dengan penuh hafalan-hafalan ayat-ayat dalam kitabNya, kalimat-kalimat teladan berbagai perawi hadist rasulNya, pengetahuan fiqih hingga luasnya tsaqofah bekal untuk hidup menuju alam akhiratNya. Pikiran ini akan penuh lelah demi beradu argumen dalam syuro’-syuro, membuahkan sebuah pemikiran untuk solusi kehidupan.
Bahkan juga jiwa kita, akan begitu lelah dalam menghadapi setiap hempasan cobaan. Bertubi masalah dan musibah, lingkup pribadi hingga negeri. Jiwa ini akan lelah untuk tetap tegar bertahan dalam setiap himpitan, permasalahan diri sendiri belum usai, kita sudah harus dengan begitu kokoh seolah menjadi pahlawan dan tokoh untuk menghadapi permasalahan dalam lingkup yang lebih universal. Begitu pula jiwa ini akan lelah untuk terus menghamba, dengan gigih melaksanakan segala perintah dan menjauhi laranganNya, yang sepele hingga sekecil apapun.
Begitulah saudaraku, setiap bagian dari unsur kehidupan tubuh kita akan merasakan sedemikian rupa sebuah rasa yang bernama lelah. Tetapi tidak akan menjadi masalah jika setiap kelelahan bagian tubuh ini kita manfaatkan sebagaimana fungsinya untuk mengupayakan kesempurnaan tugas kekhalifaan yang kita emban, karena setiap bagian tubuh itulah nanti yang akan menjadi saksi dihadapanNya(QS Yasin :65, Fushshilat :20-21). Biarlah mereka berkata “Yaa Allah, yaa Tuhanku. ketika di dunia si fulan ini telah membuatku lelah untuk bekerja di jalan dakwah, telah membuatku lelah untuk mengabdi kepada DzatMu yang suci, membuatku lelah bukan hanya untuk memperkaya amalan dirinya sendiri tapi juga toleransi dengan penuh peduli membantu sesamanya di bumi. Sungguh aku bersaksi yaa Allah pemilik nama yang Rahman dan Rahim, ia adalah hamba yang penuh ketaatan, ia adalah hamba yang penuh bakti dan kepasrahan padaMu, untuk menggapai ridhoMu, dan mencapai posisi tertinggi di sisiMu. Maka masukkanlah ia di dalam surgaMu yang penuh nikmat, terbentang sungai-sungai dibawahnya, berdampingkan bidadari yang cantik jelita.”
Lelah. Di titik inilah kebahagiaan membuncah. Pada puncak kelelahan inilah kenikmatan benar-benar kita rasakan bak bunga merekah. Usapan lembut ayat-ayat Qur’an, “Jika kamu mendapatkan luka, maka sesungguhnya merekapun mendapatkan luka yang sama”, terasa masuk ke relung jiwa. Sangat dalam, dan sangat berkesan. Sangat sejuk ungkapanNya sampai ke dalam dasar samudera jiwa, “Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
Ketahuilah wahai saudaraku, lelah bukan berarti kalan terlebih menyerah, karena bukan hanya kita yang lelah. Jangan GR. Mereka, musuh-musuh kita juga lelah, semua juga lelah. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan lelah. Tetapi, apakah kelelahanmu di jalan kebenaran? Apakah lelahmu di jalan Kenabian? Apakah lelahmu di jalan Tuhan Yang Penyayang? Jika lelahmu di jalan Tuhan, masih adakah artinya menghitung jumlah lelah? Masih perlukah mengeluhkan kelelahan ? Masih adakah keperluanmu membuat perhitungan dengan kelelahan?

--------------------------------------------------------------------------
06.24 WIB
Masjid Nurur Rahman UTM
Sabtu, 5 November 2011
9 Dzulhijjah 1432 H
--------------------------------------------------------------------------


Jumat, 04 November 2011

AGAR BISA MENIKMATI INDAHNYA DIJALAN DAKWAH

Posted On 19:38 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah. Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.
Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya, untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah. Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah. Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah. Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah. Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan mulia di sisi Allah.
Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu, selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan, kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran Rabbaniyah dalam segala langkah. Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya  perlu menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah, dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.
Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah. Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam menjauhi Allah.
Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.
Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.

--------------------------------------------
Original message from : Ust. Cahyadi Takariawan


Kamis, 20 Oktober 2011

Salamatul Insan fii Khifdzil Lisan

Posted On 15:22 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Keselamatan seseorang bergantung pada keterampilan orang tersebut dalam menjaga lidahnya

Lidah memang tidak bertulang , sehingga dia sangat mudah untuk bergerak, berkelit dan berjumpalitan kemana pun dia suka dengan sangat mudah. Meski dia sangatlah lunak Dan lembut, namun produk yang dihasilkan lidah itu sendiri bisa bermacam-macam. Bisa melahirkan hikmah Dan manfaat, berita, cerita, hikayat, cercaan, makian, kata-kata yang pedih Dan menyakitkan Dan yang sangat keras sekalipun, semuanya bisa lahir dari lidah yang lembut Dan lunak tersebut. Subhanallah…..

Karena lidah, dua negara yang sedang terlibat dalam peperangan sengitpun bisa berhenti, Dan karena lidah pula, dua orang dalam sebuah keluarga bisa bercerai, dua suku dalam sebuah Negara bisa bentrok, dua kelompok bisa berseteru, atau bahkan dua Negara bisa terlibat dalam peperangan besar.

Dengan lidah seseorang bisa banyak meraih pahala, Dan dengan lidahnya pula seseorang dapat mengumpulkan bertumpuk dosa. Keselamatan seseorang banyak ditentukan oleh yang namanya lidah.

Bahkan karakteristik seorang Muslim seperti yang pernah disabdakan Rasulullah saw, : ” Seorang Muslim ialah orang yang mampu menjaga lidah Dan tangannya dari mengganggu Muslim sesamanya. “( HR. Bukhori – Muslim ).

Dari setiap kata yang keluar dari mulut kitalah akan diketahui siapa diri Kita. Apakah termasuk orang pembohong, ahli cerita, tukang ngomel, tukang ngumpat, tukang fitnah, atau justru Kita termasuk ahli hikmah dimana setiap kata yang keluar akan senantiasa menimbulkan manfaat.

Ramadhan benar-benar merupakan momen penting bagi setiap Muslim, karena setiap detik bisa bernillai puluhan, ratusan atau bahkan jutaan pahala, atau justru akan hilang sia-sia, Dan na’udzubillah kalau waktu tersebut justru hanya akan mendatangkan noda-noda dosa serta menghasilkan tabungan penyesalan berkepanjangan.

Rasulullah saw bersabda., : “Barang siapa beriman kepada ALLAH Dan Hari akhir, maka hendaklah dia berkata (sesuatu) yang baik, atau diamlah. ” (HR Bukhori – Muslim ).

Kata atau lidah benar-benar menjadi baromneter dari karakter seseorang. Apakah seseorang itu baik atau jahat, apakah dia munafik ataukah orang itu saleh, semuanya bisa dilihat dari apa yang dia katakan.
Maka tidak berlebihan jika Rasulullah saw mengatakan dalam salah satu sabdanya, bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga :
1. Jika berkata dia dusta
2. Jika bernjanji dia ingkar.
3. Jika dipercaya dia khianat.

Ketiga karakteristik tersebut semuanya bersumber dari apa yang dia katakan. Oleh karena itu, momen Ramadhan adalah kesempatan emas untuk latihan memanage lidah, agar dia senantiasa mengeluarkan kata-kata yang baik, kata-kata yang mengandung manfaat bagi banyak pihak, atau lebih baik diam jika sekiranya perkataan tersebut tidak mengandung nilai.

Ada sebuah ungkapan mengatakan :
“Lidahmu adalah pedangmu yang akan memotong lehermu sendiri jika engkau salah mempergunakannya.”


(disarikan dari buku ” The Power of Akhlak – Menjadi Kesayangan ALLAH ” yg ditulis Ust. Bobby Herwibowo, Lc & Ust. A. Hadi Yasin, S. Ag, MA. ).


Senin, 10 Januari 2011

Menjadi Pelajar yang Beruntung

Posted On 01:07 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Lebih dari 3 bulan belajar di negeri orang, telah begitu banyak pelajaran berharga yang saya peroleh. Pelajaran hidup itu muncul saat kita mau merenungi setiap peristiwa yang kita alami, sebagaimana Ali bin Abi Thalib r.a berkata, ” Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Salah satu pengalaman yang sangat berkesan menurut saya adalah pengalaman saat kita mengalami kegagalan atau kekecewaan. Terkadang kesan itu begitu mendalam sampai-sampai tidak terlupakan selama bertahun-tahun.

Sahabatku, terutama kepada para pelajar dan mahasiswa, coba mari kita ingat-ingat sebentar, pernahkan Anda mengalami kekecewaan karena gagal ujian? Pernahkan Anda merasa kecewa karena guru atau dosen Anda tidak berlaku adil kepada Anda ? Mungkin dalam hati Anda berkata, “Bukan saya yang salah, tapi dosennya yang salah!”.
Sahabatku, kekecewaan itu muncul saat kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Saat menghadapi ujian sekolah kita berusaha untuk mendapatkan nilai yang bagus dengan cara belajar yang giat, persiapan jauh-jauh hari dan bahkan berdiskusi secara rutin dengan teman-teman. Saat ujian tiba, kita berusaha untuk mengerjakan soal dengan sebaik-baiknya, kita baca soalnya dengan teliti, kita periksa lagi jawaban kita sesaat sebelum waktu ujian berakhir dan akhirnya kita serahkan hasil ujian kita kepada guru dengan mantap. Namun.. apa yang terjadi saat pengumuman nilai, ternyata kita hanya dapat nilai rendah. Kita sangat kecewa, kita tidak tahu dimana salahnya, karena begitu banyak faktor pengaruh yang tidak bisa kita kendalikan, seperti lupa memberi nama pada lembar jawaban kita, guru/dosen yang salah memberi nilai karena mengantuk, lembar jawaban yang hilang atau tertukar, atau nilai kita yang tertukar dengan teman dan masih banyak lagi.
Sahabatku, pada situasi seperti inilah kita hanya bisa mengandalkan pertolongan Allah. Untuk situasi seperti inilah perlunya kita berdoa kepadaNya. Karena doa adalah perisai para hambaNya yang benar. Dengan perlindungan dari Allah, niscaya semua permasalahan selalu memberikan kebaikan kepada kita hambaNya yang berserah diri. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Thaaha ayat 111 - 112 berikut ini :
” Dan tunduklah semua muka (berserah diri) kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang melakukan kezaliman. Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal shalih dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak kuatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya”
Selamat berjuang sahabatku. Sekali layar terkembang pantang surut berlabuh kembali.

disadur dari Website trustcosurabaya.com
tulisan asli dari Eko Andi Suryo


Senin, 20 Desember 2010

LAKUKAN DENGAN BAIK

Posted On 13:56 by Yanuari Dwi Prianto 0 komentar

Tahun hijrah 1432 talah kita masuki bersamaan dengan beradanya kita di tahun 2011 miladiyah. Dua bilangan tahun saling berdekatan, tentu secara sunatullah tidak ada yang terlalu istimewa untuk kita kaum yang beriman pikirkan.
Toh, itu semua hanyalah perhitungan waktu sesuai dengan cara penghitungannya masing-masing. Masehi menurut pergerakan matahari (syamsiah), sedangkan hijriyah berdasarkan pergerakan bulan (ijamariah). Artinya, bunii yang kita pijak tetaplah satu, langit yang menyelimuti semesta raya ini pun langit yang sama pula.
Perbedaan model perhitungan waktu dalam bilangan tahun karena memang melihat konteks kejadian peristiwa yang berbeda. Dalam konteks Islam, misalnya, Khalifah Ummar bin Khattab menjadikan momentum hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah sebagai pangka! dimulainya perhitungan almanak Islam itu.


Ambil, Menjadi Peringatan

Sekadar mengambil contoh bilangan, cobalah perhatikan Al-Qur’an surah 14 (Ibrahim) ayat 32, menukilkan: “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”
Mengingat akan rentang pergantian waktu adalah ikhtiar untuk memahami keberadaan ataupun posisi diri, berhubung kita yang manusia ini adalah juga menjadi bagian alam semesta yang tiada terlepas dari konteks ruang dan waktu itu sendiri.
Ada sebutan khusus kata ‘hujan’ dalam ayat tersebut, yang sesungguhnya menjadi keberkahan dan rahmat bagi penduduk di permukaan bumi. Penduduk tentu saja bukan hanya manusia belaka, akan tetapi ada hewan-hewan, pepohonan, dan gunung-gunung yang tentu saja membutuhkan air untuk sebuah proses berlangsungnya penghidupan.
Kita yang kemudian sering kurang faham tatkala fenomena berubah menjadi bencana, serta-merta tema keberkahan dan rizki yang semestinya didapat yang bersumber dari air yang turun dari langit itu lalu dilupakan.
Padahal jika dalam kurun waktu tertentu tak jua turun-turun hujan, betapa repot dan tersiksanya manusia di bumi ini. Bukankah ketika hujan menjadi ‘bencana’ itu disebabkan oleh ulah tangan-tangan dan pikiran manusia juga? Yaitu tatkala kita tak pandai mengelola lingkungan sehingga terjadi tema-tema ketidak-seimbangan atau ketimpangan alam.
Dari ayat itu, kita diperingatkan untuk senantiasa mengingat keberadaan diri dan berkesadaran terhadap fenomena alam semesta yang menjadi tempat kita hidup dan berkehidupan. Maka untuk bisa memahami konteks ayat 14:32 di atas, sebelumnya Allah telah mendahuluinya dengan sapaan kepada para hamba:
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan“. (QS Ibrahim: 31)
Apa yang menjadi perintah atau suruhan di ayat 31, pada gilirannya tentulah Allah SWT memberikan reward (penghargaan) sebagaimana dinukilkan dalam ayat ke-32-nya. Inilah pula yang dinamakan hukum sebab-akibat atau kausalitas itu. Sebagai pembanding untuk konteks hubungan sebab-akibat ini, kita dapat membaca pada rangkaian empat ayat sebelumnya, QS Ibrahim ayat 27-30.

Hindari Tipuan Dunia

Seperti halnya ada warning bagi masyarakat ketika akan terjadi bencana — entah tsunami, banjir bandang, atau erupsi gunung api — bahwa manusia diberi peringatan untuk berwaspada agar tidak tergiur atau terbawa arus kesesatan dari jalan Allah.
Bahwa yang tergiur dalam wilayah permainan “orang-orang yang ingkar” dan amat cenderung pada soal-soal duniawiyah tentulah akan mendapatkan “kesenangan duniawi”, meski pada gilirannya berisiko untuk kelak mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.
Betapa banyak di antara kita yang terjebak dalam tawaran yang penuh tipu daya itu yang menggiurkan: nafsu dunia. Dan, Al-Qur’an acapkali memberi peringatan tentang dunia yang merupakan panggung sandiwara itu.
Kita diingatkan memperhatikan waktu (QS Al-Ashr), di mana manusia akan senantiasa merugi manakala ia tiada membentengi dirinya dengan keimanan, amal salih, berada dalam kebenaran, dan bersabar dalam menghadapi pertarungan hidup. Keempatnya saling berkaitan yang tiada berputus satu sama lain.

Mengubah Sikap Diri

Lalu, apa kaitannya dengan rentang perjalanan waktu yang bakal kita hadapi di tahun 1432 hijriyah ini? Tak banyak yang berubah dan kita masih berada dalam situasi krisis yang beragam. Sehingga dibutuhkan kepiawaian diri agar tidak menjadi orang yang putus asa lantaran menghadapi kesulitan hidup.
Perbanyak amal-amal ibadah, bersabar menghadapi realita hidup, dan terus letakkan nilai-nilai optimisme di dalam diri. Hidup akan terasa berat, jika memang menyandarkan segala sesuatu dalam sudut pandang materi atau kebendaan. Untuk itu, cobalah mulai dari kita masing-masing untuk menawarkan segala sesuatu yang bernada keihsanan dan bernuansa nllai kebajikan.
Kita harus mengubah perangai anak bangsa ini, dengan bersegera hijrah meninggalkan segala sesuatu yang bersifat keburukan. Hijrah dalam konteks kita kekinian adalah merupakan momentum untuk mengubah tingkah laku dan cara pandang dalam hidup: change of behavior and change of paradigm. Itu yang harus kita camkan baik-baik. Maka lakukanlah hal-ihwal yang baik-baik saja.
Sumber: Lembar Risalah An-Natijah No. 49/Thn XV - 3 Desember 2010


Minggu, 05 September 2010

Keep Smile....!

Posted On 23:21 by Yanuari Dwi Prianto 3 komentar

Saudara-saudaraku....
Bila qt memandang segalanya dari Allah, yang menciptakan ujian, yang memberikan masalah, yang menyebabkan sakitnya hati, yang menyebabkan keinginan terhalang,yang memberikan semua kegagalan. Maka damailah hati karna tidak akan Allah sengaja mengatur segalanya untuk sesuatu yang sia-sia, untuk sesuatu yang tiada berguna. Bukan Allah tidak tau derita hati, tapi mungkin itulah yang Dia mau karna Dia tau,dan sangat tau kondisi hati tiap-tiap hambanya yang merasa sempit, terluka dan sakit akan selalu lebih lunak & mudah untuk dekat serta akrab dengan-Nya. dan dengan itu pula seorang Hamba bisa belajar,berkembang, dan mengalami metamorfosis untuk menjadi insan yang lebih baik. Oleh karena itu, tidak selayaknya kita menyerah saat ditimpa masalah, down saat menghadapi ujian, menangis dikala hati teriris, dan melayang saat keinginan kita terhalang. Tetaplah menjadi satu-satunya orang yang tetap bersinar di tengah kegelapan.
Ketahuilah saudaraku, bahwa Allah berpesan dan merupakan sebuah janji pada hamba yang hanya menggantungkan harapan padaNya, yaitu "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah : 5-6). Maka, Bersyukurlah, bersemangatlah, dan tersenyumlah.[jan]